oleh

Dr Yudi Krismen, SH, MH : Dedikasi Membela Kaum Terzalimi

SUARANYA lantang, posturnya tegap, sorot matanya tajam, namun senyuman tak pernah hilang dari belahan bibirnya. Pak Yudi, demikian dia biasa disapa. Jebolan Doktor Ilmu Hukum dari Universitas Padjajaran Bandung ini, memang berbeda dengan kebanyakan pendekar hukum lainnya yang ada di tanah Lancang Kuning Riau.

Selain tercatat sebagai satu-satunya pengacara dengan level pendidikan S-3 yang berasal dari kampus hukum kebanggaan Bumi Sangkuriang, Yudi Krismen, demikian nama lengkapnya, telah berkecimpung di dunia penyidikan dan penyelidikan puluhan tahun karena sebelumnya memang tercatat sebagai anggota Tri Brata dari satuan Ditkrimsus Polda Riau.

Artinya, sebelum terjun ke dunia advokad, Dr Yudi Krismen SH MH telah terlebih dahulu melengkapi dirinya dengan segala hal yang berbau hukum dan dunia peradilan. Sehingga tidaklah salah, kalau lelaki kelahiran Koto Laweh, Solok, Sumatera Barat, 5 Januari 1975 ini merupakan pakar hukum dengan disiplin ilmu hukum pidana materil dan pengalaman yang sangat komplit yang dimiliki Provinsi Riau.

“Saya memutuskan pensiun dini dari kesatuan polisi karena ingin lebih leluasa membela dan melindungi masyarakat yang selama ini tak mendapat perlindungan yang kuat dan pasti dari sisi hukum. Karenanya, sebagai praktisi hukum, saya ingin mendedikasikan segala ilmu dan pengalaman yang saya miliki untuk melindungi masyarakat yang terzalimi dari perlindungan hukum,” kata Pak Doktor Yudi memulai pembicaraan.

Suami dari Mesra Feny, SH., M.Kn, Notaris/PPAT di Pelalawan ini sangat yakin dengan pilihan hidupnya dengan melompat dari satuan kepolisian menjadi seorang advokad. Sebab, selain tercatat sebagai seorang pengacara dengan bendera Dr. Yudi Krismen, SH., MH & Partner, dia pun mengamalkan ilmunya sebagai dosen tetap di FH UIR dan dosen luar biasa dari sejumlah perguruan tinggi yang ada di Provinsi Riau, maupun di daerah tetangga.

Malah, keilmuan ayah tiga anak yang masing-masing bernama Muhammad Yuan Fenly, Yafi Faris dan Athanayla bisa menerbangkannya ke sejumlah kota di tanah air sebagai seorang saksi ahli hukum pidana.

Menjadi ahli hukum, memang telah menjadi obsesi Yudi Krismen cukup lama. Hal itu dibuktikannya dengan tetap mampu mengikuti perkuliahan di sela kesibukannya sebagai aparat kepolisian.

Jenjang S1 berhasil diselesaikannya di Universitas Islam Riau pada tahun 2005, selanjutnya pada almamater yang sama, pria murah senyum ini merampungkan S2 atau pasca sarjana magister hukum selang setahun kemudian.

Merasa belum mumpuni dengan ilmu hukum yang telah dimilikinya, Yudi Krismen pun menyeberang ke Pulau Jawa, tepatnya ke Universitas Padjajaran Bandung untuk merampungkan pendidikan S3 atau doctoral dengan konsentrasi hukum pidana. Jenjang pendidikan ini mampu dituntaskannya hanya dalam tempo 3 tahun delapan bulan saja.

Pada 25 November 2016, Yudi Krismen berhasil menambah panjang deretan namanya menjadi Dr. Yudi Krismen SH MH dengan nilai akademis cum laude.

“Untuk bisa menyelami dan memahami sebuah ilmu secara paripurna, maka kita harus mengikutinya secara serius, fokus dan berjenjang. Inilah yang akan menjadikan kita sebagai seorang figur yang paripurna,” ucapnya beralasan.

Meskipun titel Doktor baru didapatnya akhir 2016 silam, namun hal itu tak menghalangi seorang Yudi Krismen melesat bak meteor di dunia hukum tanah Melayu. Ini pula yang membuat almamaternya tak mau melepaskannya sehingga dalam bilangan bulan saja, Yudi Krismen mendapatkan status dosen tetap di Universitas Islam Riau (UIR).

Ini tentu bukan sesuatu hal yang keliru, sebab seorang Yudi Krismen telah mengikuti sejumlah seminar yang berkaitan dengan disiplin ilmu hukum dan kepemimpinan. Diantaranya seminar terkait narkoba, seminar kepemimpinan, seminar dan lokakarya RBP, pelatihan advokad dan pelatihan revolusi mental.

Selain mengikuti sejumlah seminar, Dr Yudi Krismen SH MH pun menempa dirinya sebagai pemimpin dengan menjadi pemateri atau nara sumber di sejumlah kegiatan. Antara lain pemateri terkait UURI nomor 23 tentang KDRT, narasumber pada penerimaan mahasiswa baru STIKES Hang Tuah Riau, narasumber terkait kelahiran DPD RI.

Selain itu, dia juga tercatat sebagai narasumber pada penegakan hukum pemilu, Perkap No 14 Tahun 2012 sebagai pengganti Perkap Nomor 17 tahun 2017, sosialisasi UU Perlindungan Anak, Sistem Pemidanaan Pemilu, Perpres No 87 Tahun 2016 tentang Saber Pungli, TP Pemerasan dan Tipikor dan sebagainya.

Sebagai seorang praktisi hukum, Dr Yudi Krismen SH MH pun telah mampu menyelesaikan setidaknya 17 karya ilmiah terkait berbagai hal. Mulai dari persoalan pertanahan, persoalan benturan antara lembaga negara hingga masalah corporate crime.

Saat ini, pengurus sejumlah organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan yang ada di Riau ini, juga tercatat sebagai dosen di berbagai tempat. Seperti dosen pada Fakultas Hukum UIR, dosen luar biasa jurusan Kriminologi pada FISIP UIR, dosen luar biasa pada FKIP UIR.

Selain di almamaternya UIR, Yudi Krismen juga menjadi dosen luar biasa di FKUH Unri, STIH YPPB Pekanbaru, dosen di SPN Pekanbaru, dosen luar biasa di FT UIR dengan mata kuliah pancasila dan kewarganegaraan, pengajar TP di bidang kehutanan dan kebakaran hutan, TP Terorisme dan Etika Profesi Polri terkait Dumas dalam Penyidikan Perkara oleh Penyidik di SPN Pekanbaru serta dosen program pasca sarjana ilmu hukum di UIR.

“Alhamdulillah, sebagian dari rencana dan cita-cita saya untuk mengabdi dan mendedikasikan ilmu dan pengalaman yang saya miliki untuk masyarakat telah tercapai. Namun saya pastikan, seorang Yudi Krismen tak akan merasa puas kalau masyarakat kecil masih terbelenggu oleh hukum dan system peradilan yang belum memuaskan semua pihak,” ucap Pak Doktor mengakhiri. ***

Komentar