Sekilas Autobiografi Prof. DR. Tabrani Rab

Foto : Prof. DR. Tabrani Rab

www.terasriau.com

PEKANBARU – Setelah gejolak tumbangnya Presiden Soeharto yang diikuti dengan krisis moneter, kemudian dilanjutkan era reformasi, sayapun akhirnya pulang ke Pekanbaru sekitar tahun 2001 dan kemudian dikenalkan alm. atuk saya kepada Ongah, ( begitu sapaanya ) hingga kemudian ikut membantu beberapa penulisan baik dibuku dan disebuah kolom yang disediakan harian Riaupos bernama Tempias.

Berikut sekilas Autobiografi yang biasa dituliskannya dihalaman belakang setiap buku terbitannya. 

Lahir di Bagan Siapi-api 30 September 1941, semasa hidupnya beliau juga merupakan Guru Besar tetap di Universitas Riau, beberapa buku yang pernah terbit di bidang Sosial Budaya dipublikasikan antara lain, Fenomena Melayu ( Lembaga Studi Sosial Budaya Riau, 1990 ) ” Menegakkan Eksistensi Kebudayaan Melayu Melalui Kesadaran Sejarah ” ( Dewan Bahasa dan Pustaka, Johor Baharu, Malaysia 1983 ).

Juga tulisannya dalam buku Sastra Cosmopolite, Bahasa Sastra dan Bahasa Sains Bahasa Sastra dan Bahasa Sains ( Dewan Bahasa dan Pustaka, Penang Malaysia 1985 ), Malay Ethnicity Between The Past and The Future ( Published by Aitken Colombo 1985 ), Bahasa Melayu dan Pendekatan Filsafat Witgwnstein ( Persidangan Penterjemahan Rantau Asia Pacific, Kuala Lumpur, Malaysia, 1986 ).

Pada tahun 1980 beliau mulai tertarik menyelami bidang ekonomi disamping budaya. Hadir dalam berbagai pertemuan Asia’s Role in The Changing World, Internasional Conference, Taipe – Taiwan 1992 dan Tokyo Japan 1993 Waves of The Future – Asean, Vietnam and China, The Asia Society, Singapura 1994 dan beberapa pertemuan ekonomi Internasional lainnya.

Kemudian buku karyanya dibidang kedokteran antara lain, Diagnosis Dini Kanker Paru 1980, Kanker Paru diIndonesia 1980, Prinsip Gawat Paru 1982, Ilmu Penyakit Paru 1996 diterbitkan oleh EGC Jakarta. Dan buku Agenda Gawat Darurat Jilid I, II, dan III tahun 1998, diterbitkan oleh Alumni Bandung. Kalau soal ini tidak diragukan lagi dan masih membekas dalam ingatan saya, waktu kecil ketika sesak beliaulah (alm) dokternya, dan alhamdulilah sembuh.

Disebutkan juga, bahwa mulai tahun 1962 beliau aktif dalam organisasi daerah sebagai Ketua Pelajar Mahasiswa Bandung, dan Sekretaris Pelajar Mahasiswa Riau Se Jawa. Pada tahun 1978 membentuk Lembaga Studi Sosial Budaya Riau ( Riau Cultural Institute ) yang bergerak dibidang kebudayaan dan mendirikan Koran Sempena 1968 serta mingguan Genta tahun 1978 yang saat ini berkantor di Graha Pena dan dikelola oleh Zulmansyah Sekedang Ketua PWI Riau.

Bersama Yayasan Pariba Jakarta menyusun Rencana Perundang – Undangan Pemerintahan Daerah dan Perimbangan Keuangan Pusat – Daerah 1998, dan selaku Direktur Riau Cultural Institute memberikan Makalah ” Menyongsong Kepemimpinan Daerah Riau di Era Reformasi dengan Pemberdayaan Masyarakat dan Sumber Daya Alam ” 1998, bersama kandidat Gubernur Riau Saleh Djasit, Firdaus Malik, Rivaie Rahman, Azali Djohan, Kol. inf. M. Ghadilah dan turut memberikan materi Baihaki Hakim selaku Dirut Caltex.

Seiring waktu, atas berbagai pertimbangan politik dan ekonomi pada tanggal 15 Maret 1999, berbagai elemen masyarakat Riau sepakat melaksanakan Kongres Rakyat Riau ke II dan kemudian mendeklarasikan ” Riau Berdaulat. ” Dan pada tanggal 27 Mei 1999 beliau diundang khusus oleh Lembaga Pertahanan Nasional ( Lemhanas ) dengan tema Memperkokoh Integrasi Nasional melalui Keadilan dan Harmonisasi, dengan membentangkan buku volume 1 Menuju Riau Berdaulat dan dibincangkan di TVRI Jakarta pada Maret 1999.

Kisah tersebut adalah Tonggak Sejarah bagi Riau, ketika Aceh dan Papua juga dalam kondisi bergejolak ” menangis darah, ” namun Riau memilih caranya sendiri. Pada kesempatan tersebut dimasa sehat beliau pernah berpesan kepada saya sambil memberikan sebuah buku, bahwa pada saatnya ( beliau wafat ) ” buku merah ini baru bisa dipublish fik, ” ungkap alm. yang sempat menjabat sebagai Penasehat Presiden Bidang Otonomi Daerah dalam sebuah percakapan di Volvo BM 1941 sambil menuju kediaman Patimura.

Demikian sekilas Autobiografi Prof. DR. Tabrani Rab ini saya sampaikan, serta masih banyak lagi kenangan yang membekas dihati masyarakat Riau yang tak tertuliskan. Dengan mengucapkan ” Innalilahi Wainnalillahi Rojiun, kami ucapkan selamat jalan Ngah, InsyaAllah Husnul khatimah, Alfatiha.. ” (*thd)

.

Penulis : Taufiq ( yang membantu penulisan Tempias dan beberapa buku lainnya )