oleh

Peternak Telur Puyuh, Sekdes Berikan Contoh Usaha Untuk Warga Talontam Benai

Teras Riau Benai-Pada masa pandemi seperti ini, beternak burung puyuh bisa menjadi alternatif pilihan untuk dapat bertahan di kondisi yang seperti ini. Salah satunya peternak burung puyuh Sekretaris Desa Talontam, yaitu Erles, yang memiliki kurang lebih 650 burung puyuh untuk diternak, berlokasi di Desa Talontam, Kecamatan Benai, Kabupaten Kuansing. Riau.

“Saya memulai ternak puyuh dari penyediaan kandang, pengisian bibit dari tanggal 13 Agustus 2021, usaha ini adalah usaha pribadi saya, lebih kurang sepuluh hari ini, puyuh sudah mulai bertelur, rata-rata perharinya 380 hingga 400 butir.” kata Eles warga Talontam di keterangan tertulisnya, pada Senin, 20 September 2021

Loading...

Lebih lanjut ia menjelaskan, kekuatan pasar saat ini masih bagus, dan ia pun sudah memiliki pelanggan tetap, seperti ‘Bakul Bunda Pasar Benai’, (bakso bakar) dan Masyarakat membeli langsung ke Kandang.

Baca Juga :  Menjelang Idul Adha 1442H, Raja Mustakim Hadiahkan 2 Ekor Kerbau

Dari sisi lain, Pengusaha telor puyuh itu belum sanggup menerima permintaan pasar, saat ada pesanan dari pedang bakso tusuk, ia tidak bisa berjanji bahwa akan mencukupinya.

Selain banyak peminat, burung puyuh juga memiliki banyak kelebihan diantaranya jarak produksi dari puyuh kecil cepat, produksi telur tinggi, harga murah, dan kotorannya bisa digunakan sebagai pupuk.

Namun, Erles belum mau membicarakan terkait kotoran burung puyuh, yang biasa minta orang untuk dibuat pupuk organik, karena lebih baik juga pupuk organik dari pada kimia.

Saat ini, pemasaran telur burung puyuh ‘Central Puyuh Talontam’ baru menjangkau wilayah Benai, Sentajo Raya dan Pangean, Kabupaten Kuansing.

Untuk masa produksi yang ideal burung puyuh dari nol hingga akan bertelur itu memakan waktu hanya 45 hari saja, dan biasanya indukan akan bertelur 1 hari 1 telur dalam jangka waktu sekitar 1 tahun, nanti jika lebih dari itu, akan ada tahap afirmasi atau penggantian induk, Erles berharap juga ada bantuan dana tambahan dari pemerintah.

Baca Juga :  Pijar Melayu Sukses Gelar FGD, Wakil Gubernur Riau Ikut Hadir.

Harga yang ditawarkan untuk satu butir telurnya bervariasi dari Rp 500 hingga Rp 600 perbutir.

“Kalau produksi telur itu biasanya hanya 80 persen dari total keseluruhan indukan, jadi jika saya ada 650 ekor indukan hanya sekitar 400 san telur per hari,” ungkapnya.

Jika ditotal dari keseluruhan omzet yang didapat dari beternak telur puyuh ini sangat lumayan. Per harinya, bisa mendapat untung ratusan ribu.

“Saya berharap banyak peternak burung puyuh di Talontam Benai, syukur-syukur besok bisa untuk luar daerah jika kebutuhan pasar di Kuansing sudah terpenuhi,” kata dia dengan penuh semangat.

Istri dari Kades Talontam, membenarkan usaha Erles (Sekdes Desa Talontam) adalah usahanya sendiri ” itu usaha Pak Sekdes pribadi, bukan BUMDes desa Talontam ” ujar Wetri Leni, SE, istri dari Kepala desa Talontam, R. Helfi Alponso. ” Pak Erles Sekdes dan tinggal di Dusun Komang” tutupnya. (Krt)

Baca Juga :  Pemberitaan PETI Disebut Hoax, Ketua FPII Kuansing: 'Polsek Kuntan Hilir Terkesan Melindungi'

Komentar

Berita Lainnya